You are here
Home > Pojok UMKM > Bisnis Ritel di Tengah Sebuan Asing

Bisnis Ritel di Tengah Sebuan Asing

Bisnis Ritel di Tengah Sebuan Asing

Bisnis ritel di tengah sebuan asing – Kondisi perekonomian Indonesia yang terus berkembang dalam 10 th belakangan bikin pemain ritel asing melirik Indonesia sebagai target mengembangkan bisnisnya. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat beberapa pelaku bisnis ritel dari Eropa, Jepang, Tiongkok, banyak yang lakukan penjajakan ke Indonesia.

Selain dari negara-negara maju, negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia serta Singapura juga berkeinginan buka bisnisnya di Indonesia.

Yang mengejutkan bahkan ada pelaku bisnis ritel dari Tiongkok serta Jepang yang siap rugi dalam 10 tahun pertamauntuk berinvestasi dalam periode panjang di Indonesia.

Menanggapi hal semacam ini, Ketua Umum Aprindo Pudjianto meminta ada keberpihakan pemerintah pada pemain bisnis ritel nasional. “Pasar Indonesia akan jadi tujuan empuk para pelaku bisnis ritel dari luar, bila tak dilindungi jaringan distribusinya bakal dikuasai asing.

Bisnis Ritel di Tengah Sebuan Asing

Karenanya pemerintah semestinya memberi kebijakan yang lebih berpihak terhadap para pelaku bisnis ritel lokal serta selektif dalam meberikan ijin pada pemain asing yang bakal masuk, ” tutur Pudjianto.

Ia mengungkap, keberpihakan pemerintah mutlak diperlukan. Kebijakan di bidang ritel yang mempermudah jalan perkembangan ritel moderen lokal di Tanah Air adalah aspek yang perlu diperhitungkan oleh pemerintah. Lantaran bisnis ritel lebih memprioritaskan perkembangan dengan berekspansi.

Terlebih, pasar ritel di Indonesia sangat besar, apalagi untuk Indonesia bagian Timur. Wilayah itu sangatlah menarik serta daya beli warga setempat tak kalah dibanding dengan yang di kota besar di Pulau Jawa, Bali serta Sumatera. Ini Bakal makin terbuka lebar saat pembenahan distribusi lewat program tol laut sukses digerakkan.

“Bidang ritel moderen memanglah tumbuh lebih cepat dibanding pedagang tradisional sepanjang 5 tahun belakangan. Namun menurut Fitch Ratings peran pada semua industri ritel nyaris tak beranjak, ada di kisaran 20 %. Hal semacam ini menyiratkan pasar ritel moderen masih sangat luas untuk berekspansi, ” kata Pudjianto.

Ia juga menambahkan, penetrasi ritel moderen di Indonesia merupakan yangterendah dibanding negara tetangga. Menurut Fitch Ratings dengan tingkat penetrasi 14% Indonesia jauh tertinggal dibanding Filipina yang mencapai 25 % atau Malaysia yang bahkan tembus di angka 53 %.

Menurut data Nielsen ritel FMCG, rokok bahkan masih tetap menguasai sebaran ritel moderen di Indonesia yaitu meraih 25 %. Sedangkan Aprindo mencatat sampai semester I-2014 terdaftar seputar 24.000 gerai ritel moderen yang menyebar di Tanah Air. Angka ini diperkirakan semakin tumbuh dengan perkiraan sebesar 10 % di th. depan.

Berkaca dari keadaan itu, Pudjianto meminta dikotomi moderen serta tradisional ditanggalkan, bersamaan dengan tantangan yang ada di depan mata. Meksipun, ia sadar, kebijakan Presiden Joko Widodo lebih memihak pedagang tradisional dibanding peritel moderen tetapi ada juga harapan pemerataan pembangunan lewat pengembangan daerah pedesaan serta kurangi kesenjangan sosial.

Oleh karena itu, ia menilainya, tak salah apabila peritel Indonesia berekspetasi jika bidang ritel moderen bakal terus berkembang serta di dukung denganpeluang ekspansi didalam negeri.

“Persaingan bukanlah diantara kita. Akankah kita dapat merebut peluang yang terbentang luas. Harapan kita ritel Indonesia dapat jadi tuan rumah di negeri sendiri, ” tutupnya.

Sumber: Media Indonesia

Tinggalkan Balasan

Top